Antrean Panjang BBM di Pangkalan Bun Dikuasai Pengetap, Harga Eceran Melambung hingga Rp15 Ribu per Liter
Kabar Pangkalan Bun- Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, tengah dilanda kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin meresahkan masyarakat. Dalam satu bulan terakhir, antrean panjang kendaraan di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi pemandangan rutin setiap hari. Situasi ini bukan hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu kenaikan harga BBM eceran secara tidak wajar.
Antrean Mengular hingga ke Badan Jalan
Pantauan langsung di lapangan pada Rabu (15/10) menunjukkan antrean di SPBU Jalan Pakunegara memanjang hingga depan warung Bakso Pak Kumis. Sementara itu, di SPBU Jalan Pangeran Diponegoro, antrean kendaraan bahkan mengular sampai ke depan halte TPU Sekip. Kondisi ini membuat lalu lintas di sekitar lokasi menjadi macet dan semrawut.
Sejumlah warga menduga antrean panjang tersebut bukan murni disebabkan oleh kebutuhan masyarakat umum, melainkan didominasi oleh kendaraan milik para pengetap atau pelangsir BBM. Beberapa di antaranya bahkan diduga menggunakan trik curang seperti mengganti pelat nomor kendaraan agar bisa mengantre berulang kali dalam satu hari.
“Kami sangat kesulitan mendapatkan BBM. Antreannya luar biasa panjang. Akibatnya, banyak warga terlambat mengantar anak sekolah atau berangkat kerja,” keluh Mujiono, salah satu warga Pangkalan Bun.
Selain menyebabkan keterlambatan aktivitas, antrean kendaraan yang tak terkendali juga menutup akses ke sejumlah tempat usaha warga di sekitar SPBU. “Para pengetap seperti dibiarkan bebas. Pengawasan dari pihak terkait sangat lemah,” tambahnya.

Baca Juga : Damkar dan TNI AU Bersinergi Bersihkan Monumen Palagan Sambi Jelang Peringatan Heroik
Harga Eceran Meroket Tajam
Kelangkaan di SPBU tersebut berdampak langsung pada harga BBM eceran yang melonjak tajam. Di beberapa titik pinggir jalan, harga Pertalite dijual Rp13.000–Rp14.000 per liter, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) resmi. Sementara Pertamax mencapai Rp15.000 per liter.
Lokasi penjualan eceran banyak ditemukan di sekitar Bundaran Tudung Saji dan wilayah belakang TPU Kristen. Di tempat-tempat tersebut, BBM hasil “pengetapan” diduga disalurkan kembali ke masyarakat dalam jeriken dan drum, menciptakan pasar gelap yang merugikan konsumen.
Seruan Tindakan Tegas dari Warga
Warga lainnya, Imron, meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera turun tangan. Ia menilai praktik pengetapan menjadi akar utama kelangkaan BBM di wilayah ini.
“Informasinya, di wilayah Kecamatan Pangkalan Lada ada kendaraan besar seperti truk yang mengangkut BBM dalam drum besar. Kalau benar, ini pelanggaran serius dan harus segera ditindak,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi lemahnya pengawasan dari instansi terkait, termasuk Pertamina dan pengelola SPBU setempat. “Kalau pengawasan tegas, pengetap tidak akan sebebas ini. Masyarakat kecil yang paling dirugikan,” tambahnya.
Pemerintah Diminta Turun Tangan
Meningkatnya praktik pelangsiran dan lonjakan harga eceran membuat masyarakat mendesak adanya langkah nyata dari pemerintah daerah, aparat kepolisian, dan pihak Pertamina. Penertiban terhadap pelangsir dan pengawasan ketat terhadap distribusi BBM dinilai sebagai langkah mendesak.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pertamina maupun pengelola SPBU setempat belum memberikan pernyataan resmi mengenai upaya penanganan kelangkaan BBM di Pangkalan Bun. Namun, masyarakat berharap solusi segera hadir agar antrean panjang tidak lagi menjadi “pemandangan sehari-hari” di kota ini.















